Dari Generasi Milenial ke Generasi Sapu Jagat

0
75

Oleh :
Deden Al Farhan
(Sekretaris Bidang Pendidikan dan Seni Budaya MUI Kab.Lebak)

Generasi Millenial akhir-akhir ini terminologi tersbut sangat akrab dengan telinga kita, hampar semua aspek dalam kehidupan ini dikaitkan dengan terminologi, ekonomi, politik, sosial, buadaya, pendidikan, teknologi dan bahkan agama tidak bisa melepaskan diri dari penyebutan istilah Generasi Milenial, apa sebenarnya yang dimaksud dengan generasi milenial, istilah yang dilahirkan oleh dua ahli sejarah Amerika Serikat yanki Wiliam Strauss dan Neil Hove itu adalah genarasi yang dilahirkan antara tahun 1982-2000. Semula generasi ini akan dipopulerkan sebagai generasi Y karena merupakan generasi penerus dari generasi X, Mengingat generasi ini menandai datangnya millennium baru yaitu millennia 21, maka penyebutan generasi milenial lebih mudah populer daripada menyebutnya dengan generasi Y, seiring perkembangan waktu dan banyaknya para ilmuwan yang tertarik untuk meneliti hal-hal yang berkaitan deangan generasi milenial ini kahirnya terungkap pula identitas generasi milenial ini diantaranya adalah cara hidup generasi milenial, generasi ini lahir bersamaan dengan perkembangan teknologi dan komputer yang semakin maju, generasi ini tumbuh dalam iklim yang sangat “kental” dengan teknologi dan serbuan informasi yang cepat dan canggih. Generasi ini adalah generasi yang cepat menerima dan mengadopsi informasi yang lebih cepat, dan akan mencapai kebosanan apabila menjalani metode pelajaran tradisional. Generasi Millenials muncul untuk menjadi generasi yang lahir untuk menerima teknologi yang paling canggih, yang mencakup teknologi muktahir seperti iPod, MP3s, kamera ponsel, PDA, kamera digital, Smartphone dlsb, Generasi Millenal disebut sebagai anak-anak remote control karena mereka menghadapi perubahan yang terus menerus. Mereka selalu mencari tantangan, mempunyai rencana jangka panjang, optimistic, menghargai pengalaman pribadi dan punya pemikiran yang kritis.

Demikian halnya dengan cara belajar, cara belajar generasi milenial sangat-sangat mengutamakan indrawi (misalnya visual, audio dan lainnya) yang berbasis kepada kepribadian dan bakat mereka yang tidak tersekat raung dan waktu, bahkan cara belajar generasi ini kecenderungan ingin “bebas” tidak terkonteks, terstruktur dan anti instruktur, hal ini terjadi karena dalam kehidupan mereka sehari-hari teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka ditambah lagi dengan abad informasi, sehingga kebutuhan pengetahuan mereka lebih dominan di suplay oleh informasi bebas tak berbatas dari teknologi yang mereka kuasai, generasi ini memperlihatkan gaya belajar yang berbeda ibarat dua sisi mata uang yang berlawanan, karakteristik belajar generasi milenial ini juga demikian, di satu sisi cara belajar generasi ini akan mendatangkan penetrasi ilmu pengetahuan yang cepat dan tak berbatas, namun di sisi lain, cara belajar dengan kecepatan dan kebebasan akses informasi ini juga mengakibatkan adanya ketidak sesuaian antara usia dengan informasi yang di terima,sehingga banyak bermuara pada gagal faham atau faham gagal, salah satu indikasinya bisa kita perhatikan di lingkungan sekitar kita sangat banyak sekali anak-anak yang seolah-olah “dewasa belum waktunya”, hal ini sepertinya biasa-biasa saja, tapi jika kita telaah lebih jauh lagi hal ini harus menjadi sebuah keprihatinan kita bersama, karena secara Psikologis jika anak sudah merasa dewasa maka akan muncul ego sebagai orang dewasa, yang paling tidak ego ini akan tercermin melalui sikap sukar untuk diatur dan diberi masukan bahkan oleh orang tuanya sendiri,lebih jauh lagi mereka akan melakukan hal-hal yang seharusnya belum waktunya mereka lakukan.

Masih berkaitan dengan cara belajar generasi milenial ini, dikarenakan kemudahan dan kebebasan informasi yang mereka miliki yang bersumber dari globalisasi, maka generasi ini juga memiliki kecenderungan kehilangan karakteristik beragama dan berbangsa, yang mana kita ketahui bersama bahwa ke dua karakter tersebutlah yang menjadi pondasi dalam menjalankan kehidupan di masa yang akan datang, generasi ini cenderung mengikuti trend yang sedang digandrungi dunia alias “kekinian”, sehingga dalam kehidupan keseharian mereka tidak lagi mengindahkan kaidah beragama dan berbangsa selama itu kekinian maka hal itu benar bagi mereka sekalipun salah menurut agama dan bangsa, inilah yang menjadi tantangan terberat kita selaku umat yang hidup di era generasi milenail ini, kita tidak bisa berpangku tangan dalam menghadapi permasalahan diatas, karena jika kita berpangku tangan dikhawatirkan kita tergolong “orang-orang yang merugi” karena tidak melaksanakan “Tawa Shoubil Hak” (baca surat Al ‘Asr), berkaitan dengan “Tawa Shounil Haq” penulis menyarankan jika kita bersama-sama mengarahkan perubahan generasi yang ada yakni dari Generasi Milenial ke Generasi Sapu Jagat.

Pertanyaannya apa itu generasi sapu jagat, penulis menggunakan istilah ini karena terinspirasi dengan sebutan bagi do’a yang paling populer, hampir semua hafal dan paling sering kita panjatkan, kalimat dalam do’a terdapat dalam surat Al Baqoroh ayat 201,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.(Qs.Al Baqoroh : 201)

Dalam beberapa hadist disebutkan do’a ini adalah salah satu do’a yang sering dipanjatkan oleh Rosulullah SAW, di riwayat kan dari Abdul Aziz bin Syuhaib bahwa Qotadah bertanya kepada Anas radhiyallah anhu tentang doa yang paling banyak di baca oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anas menjawab :

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّا

“Dan Anas jika hendak berdoa dengan suatu doa maka ia melantunkan doa ini.” (HR Muslim).

Namun demikian, berkaitan dengan sejarah kapan do’a ini dinamai do’a sapu jagat, penulis belum menemukan literasi yang pas yang bisa digunakan sebagai rujukan sejarah penamaan do’a sapu jagat ini.

Kembali kepada generasi sapu jagat,penamaan generasi sapu jagat ini berlandaskan pada filosifis dari do’a sapu jagat yang oleh karena itu, jika kita coba simpulkan Generasi Sapu Jagat adalah generasi yang baik dalam urusan agama dan baik dalam urusan dunia (memiliki karakter beragama dan berbangsa), generasi yang memiliki semangat mengejar ilmu-ilmu agama (sebagai modal kehidupan akhirat) dan semangat mengejar ilmu-ilmu dunia (sebagai bekal menghadapi persaingan globalisasi), sehingga terciptalah keseimbangan dalam melanjutkan kehidupannya.

Lantas apa yang bisa kita lakukan seabgai upaya mentranspormasikan dari generasi milenial ke generasi sapu jagat ini, tentu untuk melakukan hal tersebut di perlukan desain dan pola yang terstruktur dan ilmiah, dan pola itu sudah di sediakan oleh para Ulama pendahulu kita, dengan warisan mereka dalam bentuk lembaga pendidikan yang kita kenal dengan Pondok Pesantren.

Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan tertua di indonesia, saking tuanya sampai-sampai hingga saat ini ada banyak versi sejarah yang menyatakan kapan pesantren mulai ada di Indonesia, ada yang mengatakan pesantren ada sejak sebelum jaman wali songo, ada juga yang menyatakan pesantren dilahirkan oleh wali songo khususnya oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan sebutan sunan gresik sekitar abad ke-14, melalui pesantren (proses pembelajaran dan pendidikan)inilah pada gilirannya lahir orang-orang hebat yang kita kenal dengan Wali Songo, pada era Wali Songo penyebaran Islam semakin masif, seiring dengan masifnya penyebaran islam semakin populer pula nama pesantren dikalangan masyarakat pada masa itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, mempunyai arti dan peran yang sangat besar dalam pengembangan dan kelestarian Islam serta pembangunan bangsa dan negara, dengan segala macam nama, model dan bentuknya pesantren menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sejarah Bangsa Indonesia, ini menjadi keunikan lain dari Pesantren yang tidak hanya menjadi tempat belajar Agama tapi juga menjadi tempat membangun karakter manusia Indonesia, saking uniknya banyak sekali para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, beragama Islam ataupun bukan yang datang menghabiskan waktunya untuk meneliti pesantren.

Dengan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman, mayoritas pesantren hari ini sudah tidak lagi mengkhususkan mempelajari ilmu-ilmu agama saja, pesantren hari ini mayoritas menyediakan sekolah sebagai tempat menggali ilmu-ilmu duniawi, sehingga lulusan pondok pesantren bukan hanya menguasai ilmu –ilmu agama tapi juga mampu bersaing dalam urusan ilmu-ilmu dunia, sudah banyak ilmuwan-ilmuwan (ekonimi, sosial, teknologi dlsb) yang lahir dari rahim pondok pesantren, ini menjadi indikasi bahwa pesantren dewasa ini menjadi tempat belajar yang integral atau mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu dunia, sehingga melahirkan banyak orang yang siap menghadapi kehidupan akhirat dan mampu bersaing dalam kehidupan dunia global ini atau kita sebut dengan Generasi Sapu Jagat.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh elemen bangsa ini agar bagaimana kita menutup kelemahan-kelemahan karakter yang dimiliki oleh generasi milenial yang saat ini kita lihat dan rasakan bersama dengan cara mempercayakan pendidikan anak-anak kita ke Pondok Pesantren dengan harapan anak kita menjadi Generasi Sapu Jagat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here